Hai Ayah Bunda, apakah Ayah Bunda sudah mengetahui tentang Penyakit Jantung Bawaan (PJB)?
Hai Ayah Bunda, apakah Ayah Bunda sudah mengetahui tentang Penyakit Jantung Bawaan (PJB)?
PJB merupakan penyakit akibat adanya kelainan di struktur atau fungsi jantung yang dibawa sejak lahir. Sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Namun, beberapa penelitian menyebutkan bahwa faktor genetik, beberapa jenis obat, penyakit pada ibu dan pajanan radiasi sinar-x dapat menjadi faktor risiko munculnya PJB pada janin. Sekitar 30% PJB sudah menunjukan gejala pada minggu-minggu pertama kehidupan. Jika tidak terdeteksi sejak dini dan diobati dengan baik, angka kematian dapat mencapai 50% pada bulan pertama kehidupan.
Bagaimana saya tahu kalau anak saya mengidap penyakit jantung koroner?
Ini mungkin pertanyaan paling umum yang ditanyakan para orang tua seputar PJB. PJB digolongkan menjadi dua jenis, yaitu PJB non sianotik (tidak biru) dan PJB sianotik (biru). Sianosis atau sianosis disebabkan oleh rendahnya saturasi darah di seluruh tubuh. Manifestasi atau gejala PJB dapat bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat. Pada PJB yang ringan, anak seringkali tidak menunjukkan gejala. Sedangkan pada PJB yang berat biasanya gejala sudah terlihat saat lahir dan mungkin memerlukan intervensi segera. Gejala yang terkait PJB, yaitu;
- Sianosis. Sianosis atau biru muncul pada PJB tipe sianotik, yakni adanya kebiruan di kulit dan selaput lendir terutama daerah lidah/bibir serta ujung-ujung jari akibat kurangnya kadar oksigen dalam darah. Biasanya anak akan bertambah biru bila menangis atau melakukan aktivitas.
- Infeksi saluran napas berulang. Pada orang sehat, dijumpai hubungan erat jantung (kardiovaskular) dan paru (respirasi). Namun, adanya penyakit jantung bawaan membuat hubungan ini terganggu. Oleh karena itu, pada anak dengan penyakit jantung bawaan sering tejadi infeksi saluran napas berulang. Terkadang, anak datang ke poli anak karena keluhan batuk atau pilek berulang dan saat dilakukan pemeriksaan baru diketahui adanya PJB.
- Gangguan pertumbuhan. Biasanya, saat lahir, berat badan (BB) dan panjang badan (PB) anak tergolong normal seperti bayi sehat. Namun, pada bulan-bulan awal terutama pada usia empat bulan, akan mulai tampak defisit BB, PB, dan lingkar kepala (LK). Malnutrisi ini berkaitan dengan asupan makan yang tidak adekuat, gangguan penyerapan makanan, tingginya metabolisme tubuh (dibanding anak seusia), adanya intoleransi makanan, adanya gangguan hormon pertumbuhan dan kerentanan terhadap infeksi terutama infeksi saluran napas. Jika gizi buruk terus berlanjut, perkembangan anak akan lambat.
- Berkurangnya toleransi terhadap olahraga atau aktivitas. Toleransi latihan merupakan indeks klinis yang baik untuk menggambarkan kompensasi jantung atau derajat kelainan jantung. Pasien gagal jantung selalu mengalami penurunan toleransi terhadap olahraga. Orang tua dapat menanyakan toleransi olahraga dengan membandingkan pasien dengan anak seusianya, apakah pasien cepat lelah, napas cepat setelah melakukan aktivitas biasa, atau kesulitan bernapas saat istirahat. Anda dapat menanyakan kepada anak Anda kapan ia menyusu, apakah ia hanya minum sedikit, apakah ia sering istirahat, apakah ia kesulitan bernapas saat menyusu, dan apakah ia banyak berkeringat. Anak yang lebih besar ditanyai tentang kemampuannya berjalan, berlari, atau menaiki tangga. Beberapa pasien, seperti anak-anak penderita Tetralogy of Fallot (ToF), sering jongkok setelah berjalan melelahkan.
- Gagal jantung. Gagal jantung merupakan salah satu komplikasi penyakit jantung bawaan yang dapat menjadi gejala utama saat anak masuk rumah sakit. Pada bayi atau anak yang lebih kecil biasanya gejala berupa kesulitan makan atau menyusui karena sesak sehingga akan menyebabkan gagal tumbuh. Pada anak yang lebih besar gejala yang muncul berupa intoleransi terhadap latihan, mudah mengantuk, nafsu makan berkurang, batuk, atau bengkak di seluruh tubuh.
Pemeriksaan Fetal Echocardiography
Pengembangan teknik ultrasonografi (USG) yang semakin canggih memungkinkan pemakaian alat ini untuk mendeteksi PJB sejak janin. Faktor risiko endogen yang merupakan risiko PJB antara lain genetik dan sindrom atau kelainan tertentu yang erat kaitannya dengan PJB. Sedangkan faktor risiko eksogen seperti pajanan sinar-x dan infeksi saat hamil. Oleh karena itu, jika dalam anamnesis atau pemeriksaan fisis ditemukan satu atau lebih faktor risiko tersebut, maka dokter perlu mempertimbangkan pemeriksaan USG jantung janin.
Keuntungan diagnosis PJB prenatal adalah dokter dapat mempersiapkan tata laksana persalinan sebaik mungkin. Bila diperlukan, persalinan dapat dilakukan di Pusat Pelayanan Kesehatan yang dapat memberikan pelayanan terhadap bayi dengan PJB, sehingga tata laksana yang optimal dapat segera dilakukan segera setelah bayi lahir.
Skrining Penyakit Jantung Bawaan
Pemeriksaan oksimetri di jari bayi penting dilakukan sebagai skrining PJB kritis (critical congenital heart disease) yang dapat dilakukan saat bayi usia >24 jam. Pemeriksaan dilakukan di kedua tangan dan kaki. Idealnya, anak berusia lebih dari 24 jam memiliki saturasi oksigen >95%. Namun jika saturasinya <90% atau hasilnya tidak menentu, misalnya antara 90 hingga 94% atau jika terdapat selisih >3% maka pengoperasian dapat diulang maksimal dua kali. Jika ditemukan hasil yang tidak normal, bayi mungkin akan diperiksa lebih lanjut untuk mendeteksi penyakit arteri koroner.